Perkuliaan ke 1 ~ D1 Kemuhammadiyahan (Lokal Pasuruan)


Bertempat di Kampus SMK Muhammadiyah 1 (SMK MUTU) Kota Pasuruan, Jl. KH. Wahid Hasyim 202 Kota Pasuruan diadakan Kuliah D1 Kemuhammadiyahan Angkatan Ke 3  kerjasama antara Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Perkuliahan D1 Kemuhammadiyahaan diwajibkan kepada Seluruh Karyawan, Guru di Amal usaha Muhammadiyah baik bidang pendidikan, Sosial, Layanan Masyarakat dan lainnya. Tahun 2013 ini merupakan perkuliaan angkatan ke III.
Pada pertemuan ke pertama ini, Ahad, 12 Mei 2013 dimulai pukul 08.00 - 12.30 ini dibahas mengenai Sejarah Muhammadiyah dengan Dosen Pengampu Dr. Isa Ansori, M.Si.
Pada materi pertama ini Kompetensi Dasar yang harus dipahami oleh Mahasiswa yaitu :

  1. Agar mahasiswa dapat memahami latarbelakang berdirinya Muhammadiyah
  2. Agar mahasiswa mampu menganalisis dinamika perjalanan Muhammadiyah dari masa ke masa
  3. Agar mahasiswa menyadari peranan Muhammadiyah dalam konteks dinamika ummat Islam dan bangsa Indonesia

Sedangkan lingkup bahasan mengenai 
  1. Kondisi Maysarakat Indonesia pada awal abad ke 20
  2. Faktor yang melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah
  3. Latar Belakang Gerakan Muhammadiyah
  4. Sejarah Berdirinya Muhammadiyah
  5. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan yang bersifat pembaharuan. 

Latar Belakang Muhammadiyah :
      
Terdapat tiga hal yang melatarbelakangi Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai gerakan, yakni:

  1. Kondisi  internal umat Islam di Jawa; 
  2. Pengaruh eksternal, yakni pengalaman Kiai Haji Ahmad Dahlan selama melaksanakan ibadah Haji dan menimbah ilmu di Mekah, serta Politik  Belanda terhadap umat Islam.

A. Kondisi Internal Umat Islam di Jawa  

Sikap dan pandangan tradisional

  • Pada waktu Islam masuk ke Jawa, kehidupan keagamaan yang nampak adalah campuran antara kepercayaan-kepercayaan tradisional yang telah terealisir menjadi adat kebiasaan yang bersifat agamis dengan bentuk-bentuk mistik yang dijiwai agama Hindu dan Budha (Harry J Benda, 1958: 9). 
  • Dalam perkembangannya hingga saat ini kepercayaan tersebut tercermin dalam falsafah hidup yang meskipun dipengaruhi juga oleh nilai-nilai kerohanian dari agama Islam, namun kepercayaan tradisional Jawa tetap hidup dan mempengaruhi bentuk kehidupan keagamaannya (Achmad Jainuri, 1993: 4).
  • Dasar pandangan hidup orang Jawa adalah keyakinan bahwa segala sesuatu pada hakekatnya adalah satu, merupakan kesatuan hidup.. Karenanya agama menurut orang Jawa meliputi lebih banyak bidang daripada agama-agama formal (Niel Muldcr,1977: 36),  sehingga kurang membeda-bedakan antara lapangan hidup duniawi dengan lapangan hidup keagamaan dan hampir segala hal dimasukkan ke dalam bidang keagamaan (A.G. Honig Jr, 1966: 66). 
  • Orang-orang Jawa masih didominir oleh kepercayaan kepada ruh-ruh yang dianggap penting, seperti ruh-ruh orang yang telah meninggal dunia. Mereka percaya kekuasaan dari para leluhur yang dalam perwujudannya dapat berupa kekuatan "sing momong", "sing mbau rekso", dan kekuatan ghaib lainnya. Dan Tuhan di sini mempunyai arti yang luas, yaitu mencakup segala pengertian yang bersifat super natur yang dalam perwujudannya bisa berupa percaya kepada kekuatan ghaib yang bersifal animistis (Sutrisno PH, 1977: 2-3). 
  • Kepercayaan mereka terhadap kekuatan ghaib yang animistis berupa ruh-ruh nenek moyang yang dianggup penjelmaan dari Tuhan itu memberikan kemungkinan pengertian adanya kesalahan-kesalahan dari cara-cara berkomunikasi langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa (Bisri Atfandi: 18). 
  • Di dalam perkembangannya unsur-unsur seperti di atas tetap dominan. Ciri-ciri orang Jawa yang selalu berusaha akan mcngembangkan kepribadian asli baik mental, pemikiran maupun agama akan tetap ada dalam menghadapi gejala pengasingan. Bukan hanya orang Jawa tetapi juga bangsa Indonesia umumnya, yang mengakibatkan Bosch mencetuskan istilah "local genius". Mereka mengaku menganut suatu agama tetapi dalam hati paham keagamaan asli tidak diganti. 
  • Local genius ialah istilah yang menyatakan kecakapan suatu bangsa didalam menerima unsur-unsur asing dan mengolah unsuriunsur itu sehingga sesuai dengan perasaan dan suasana bangsa itu (Soebadio dalam F.D.K. Bosch, 1976: hal.8).

Sejarah Perkembangan Islam
  • Islam datang ke Indonesia melalui saudagar Gujarat. Mereka adalah bangsa India beragama Islam yang dalam kehidupannya masih dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya setempat. Tambahan lagi mereka ini kebanyakan dari golongan sufi, melalui ajaran tasawuf inilah nampaknya lebih memudahkan masyarakat Jawa menerima Islam. Hal ini karena di antara unsur-unsur ajaran tasawuf terdapat persamaan-persamaan dengan pola-pola pemikiran Jawa, 
Contoh :
Bahwa nilai yang paling tinggi dari kepribadian manusia ialah tercapainya ketenangan batin. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mengendalikan hawa nafsu, dengan tidak terlalu memperhatikan barang-barang material. Jika sudah demikian maka seseorang akan memperoleh kekuatan untuk mengatur dunia sekitarnya. 
Dengan pemantulan dua kali ini nampak agama Islam mendapat titik pertemuan dengan Indonesia, khususnya pulau Jawa. 
Teori Benda :
Dengan teori ini akan kuatlah kemungkinan yang seperti dikatakan Benda, seandainya Islam berasal langsung dari Timur Tengah dengan menerapkan kepercayaan monotheis serta menyapu segala sesuatu yang ada sebelumnya, mungkin sekali akan tidak menemukan tempat untuk memasuki Indonesia, lebih-lebih pulau Jawa. 
Proses islamisasi berjalan tidak merata di Jawa:
  • Di daerah-daerah yang secara intensif mengalami Islamisasi dari basis-basis Islam yang kcmudian diteruskan oleh para wali beserta keturunan dan murid-muridnya terbentuklah kelompok masyarakal muslimin yang orthodox, 
  • sedangkan di daerah-daerah yang jauh dari pusat Islam dan mcngalami proses Islam yang intensitasnya rendah terbentuklah kelompok masyarakat yang "less islamic" yang disebut kemudian "Islam Abangan".
Masa Wali Songo :
Pada masa para wali hal demikian merupakan masalah yang sulit juga, sehingga menimbulkan perbedaan pendapat di antara mereka dalam menyebarkan Islam kepada penduduk yang masih kuat dengan kepercayaan lama.
Perbedaan Strategi
  • Di satu pihak Sunan Ampel dan Sunan Giri menginginkan bahwa penyebaran Islam harus dilakukan secara murni, dengan arti lain umat Islam harus diajarkan atau disuruh menjalankan agama yang harus sesuai dengan sumbcr aslinya. 
  • Tetapi Sunan Kalijaga tidak, ia lebih bersikap lunak terhadap adat-istiadat lama. Sunan Kalijaga tidak menginginkan kalau adat istiadat lama harus sekaligus diberantas, karena hal itu akan menimbulkan kcsulitan terhadap dakwah Islam. Apa yang dilakukannya adalah dcngan memberi warna baru terhadap bentuk-bentuk lama, partisipasi sambil mempengaruhi, sehingga kontinuitas dalam menuju kepada ajaran murni tetap diharapkan, baik nantinya oleh para dai di kemudian hari, maupun kesadaran masyarakat sendiri tcrhadap agamanya.
Haji
Pada pertengahan abad ke-19 dan seterusnya, agama Islam muncul dengan kegairahan baru. 
  • Di sini Islam lambat laun mulai menghilangkan sifat-sifat sinkretisnya. Meningkatnya hubungan laut -terutama sekali setelah dibukanya terusan Suez pada tahun 1869- menyebabkan meningkatnya jumlah jemaah haji  Indonesia ke tanah suci, sebagian dari mereka ada yang tinggal beberapa tahun di Mekah untuk menuntut dan memperdalam masalah-masaiah keagamaan dan sekembalinya di tanah air mereka ini membuat perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan. 
  • Sementara pesatnya  orang-orang  Arab Hadramaut  yang memasuki  Indonesia berarti menambah pula jumlah Islam orthodok  di Indonesia.  
Gerakan Islam
  • Di sini Islam muncul sebagai  tenaga perubahan yang memberikan kesaadaran akan kesatuan agama yang lebih besar terhadap penganut-penganutnya. Disitu pula agama Islam menjadi satu-satunya pilihan bagi yang ingin menjadi progresif dan modern. 
  • Munculnya gerakan-gerakan Islam modern yang diilhami oleh ajaran Wahabi dan gerakan pembaharuan Mesir di Indonesia adalah bukti adanya kesadaran tersebut. Gerakan-gerakan baru ini menambah kekuatan agama Islam dan tanpa disadari demikian ini pernah menimbulkan perselisihan antara para pemimpin adat dan sekuler kolonial dengan pemimpin agama. Perang Padri di Sumatra Barat atau kemudian perang Aceh. memaksa pemerintah kolonial melakukan intervensi. Dari sinilah kiranya, bahwa gerakan-gerakan pembaharuan dalam Islam merupakan suatu bukti perkembangan Islam di Indonesia senantiasa berhubungan. 
B. Pengaruh Timur Tengah
Pikiran-pikiran pembaharuan yang ada pada awal abad kc-19 merupakan dorongan timbulnya serentetan kebangkitan Islam di seluruh dunia. 

Mukti Ali
     Mengklasifikasikan tiga masalah pokok perkcmbangan Islam di Indonesia. 
  • Pertama, adanya pimpinan yang berwibawa (leadership)  untuk memimpin serombongan manusia guna mencapai suatu tujuan.  Hal ini dipandang penting dalam masyarakal modern yang semakin  komplek dalam sifat dan bentuknya.
  • Kedua, adalah cita-cita yang jelas (ide yang ideal).  Seseorang pemimpin dituntut untuk memiliki ide ini. Dengan demikian terbentang suatu gambaran yang  jelas dan tegas mengenai tujuan organisasinya dan cara-cara yang hendak dipakai dalam mencapai tujuan lersebut. Di Indonesia ide yang ideal itu ialah meratanya unsur-unsur Islam dalam tiap-tiap segi hidup dan kehidupan daripada masyarakat Indonesia umumnya, dan masyarakat Islam khususnya. Di antara segi-segi itu yang terpenting ialah pendidikan Islam. 
  • Ketiga, adalah harus ada organisasi yang dipergunakan untuk mcmperjuangkan ide itu. Organisasi Islam yang ada tampaknya kurang efektif, inilah sebabnya cila-cita yang ada tidak bisa diperjuangkan melalui organisasi yang demikian (A. Mukti Ali, 1971: 6) .

Gerakan Reformasi

  • Pada tahun 1802, gerakan reformis ini mulai direalisir oleh kaum Padri bersamaan dengan pulangnya Haji Miskin dan teman-temannya  dari menunaikan ibadah Haji. 
  • Tetapi gerakan ini mendapat tantangan keras dari kaum adat dengan dibantu oleh Kolonial Belanda. Sehingga pada tahun 1821 Belanda dengan bantuan militernya secara tegas membantu gerakan kaum adat untuk menghancurkan kaum Padri. 
  • Minangkabau selanjutnya merupakan daerah pertama di Indonesia dalam mcnyebarkan ide-ide reformis. Di sini tumbuh tokoh-tokoh penting seperti Syekh Muhammad Thahir Djalaluddin, syekh Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrulah, dan Haji Abdullah Ahmad  yang kemudian terkenal dengan tokoh-tokoh "kaum muda.  


Gerakan Minangkabau = Gerakan Keagamaan
Gerakan di Minangkabau ini adalah merupakan gerakan keagamaan. Di sini usaha-usaha pembaharuannya lebih ditekankan pada perubahan masalah-masalah peribadatan dan kurang sekali memperhatikan pada segi-segi lain seperti masalah sosial dan pendidikan. 
Penerbitan Al Manar
Pada awal abad ke-20 pemikiran-pemikiran  Muhammad Abduh banyak mempengaruhi  terhadap masalah-masalah Islam di Indonesia. 
Melalui penerbitan Al Manar pengaruh tersebut tidak hanya berpengaruh pada masyatakat Mesir, tetapi juga bangsa  Arab umumnya termasuk Arab imigran yang berada di luar negeri.  Demikian pula terhadap para pelajar muslim Indonesia yang berada di Kairo dan Mekah.  
Pemikiran-pemikiran yang dimuat dalam  Al Manar  tersebut melipuiti pembaharuan dalam pemahaman Islam yaitu dengan diperbolehkannya ijtihad, pentingnya masalah pendidikan umat  lslam dan membangkitkan semangat mengimbangi terhadap permainan  politik Barat dengan meningkatkan kehidupan sosial. 
Pengaruh Di Jawa
  • Peredaran Majalah Al Manar ini sampai di Jawa, salah seorang langgananya adalah  KH Ahmad Dahlan pendiri gerakan Muhammadiyah. Dialah yang menerjemahkan beberapa artikel dari  Al Manar ke dalam bahasa Jawa bagi para pembacanya di Jawa. 
  • Pemikiran-pemikiran yang tertuang Iewat majalah-majalah tersebut ternyata mempunyai jangkauan pengaruh yang sangat luas. 
  • KH Ahmad Dahlan sendiri sebagai salah seorang yang tidak lepas dari situasi  dan kondisi seperti di atas, meresapi bentuk pengaruh tersebut ke dalam tindakan amal yang riil. 
  • Di samping itu,  pengalaman KH Ahmad Dahlan pada waktu menunaikan ibadah haji (1890) dan menetap lagi di sana (1903-1905) menyebabkan terbiasa dengan ide-ide pembaharuan.
  • Pengamatan langsung terhadap daerah pengaruh pembaharuan ini, sebenarnya merupatan dorongan yang kuat  setelah ia kembali ke tanah air. 
  • Sehubungan dengan di Mekah  ini Djarnawi mengatakan, dengan  perantaraan K. Haji Baqir,  KH Ahmad Dahlan dapat bertemu dan berkenalan dengan Rasyid Ridla yang kebetulan  sedang berada di tanah suci.  Keduanya sempat bertukar pikiran sehingga cita-cita pembaharuan meresap di hati sanubarinya.
  • Di sini pula kesempatan untuk menelaah kitab-kitab dengan bimbingan para ulama mulai ia lakukan. 
  • Solichin Salam menyebutkan  beberapa kitab yang menjadi kegemarannya seperti: Risalah Tauhid, Tafsir Al-ManarT Al-Islam wan  Nasraniyah, Tafsir Juz Amma, Al-Urwah al-Wuswa (dari Muhammad Abduh); demikian juga kitab At Tawasul wal Wasilah (Ibnu Taimiyah); kitab Hadits (dari ulama madzhab Hambali};  Idharul  Haq (AI-Hindi); dan DairatuJ Maarif (Farid Wajdi) (Solichin Salam: 6).

C. Politik Islam Belanda

“Pemerintah kolonial Belanda yang menghadapi rakyat Indonesia dengan mayoritasnya sebagai pemeluk agama Islam, perlu memusatkan perhatian kepada politik terhadap agama Islam” (KH. Baqir, Kerabat KH. Ahmad Dahlan)

Sepanjang sejarah penjajahan, ideologi Islam ternyata merupakan kekuatan yang besar sekali dalam mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan asing. Meluasnya pergolakan merupakan ancaman yang serius bagi pemerintah kolonial. 
Dalam abad ke-19 gerakan yang muncul sering menggunakan panji-panji Islam dengan menggunakan ide perang  jihad. 

Perang Jihad dan Ratu Adil

  • Ide-ide agama terutama sekali ide  perang jihad, ternyatam memberikan dukungan yang bcsar terhadap gerakan-gerakan petani. Gerakan tersebut seperti: peristiwa Ciiegon (1888); peristiwa Gedangan (1904) dengan dipimpin Kasan Mukmin; demikian pula seperti peristiwa Darmadjaja di Nganjuk (1907). Pada saat-saat itu terjadilah  mobilisasi massa petani  secara cepat dan luar biasa. 
  • Gerakan-gerakan tersebut merupakan gerakan lokal dan spontan dan cenderung untuk menyatakan sebagai gerakan Ratu Adil. Gerakan-gerakan tersebut  semuanya dipimpin oleh pemuka Islam dan dijiwai ideologi Islam. 

SNOUCK
Menurut Snouck, Ratu Adil  tidaklah lagi dianggap sebagai penentang dari penguasa Islam yang tidak adil, tetapi pemenang yang pasti dalam melawan kekafiran. 
Ide ini tidak saja dianggap menjadi dasar panggilan bagi kesatuan umat Islam, tapi  juga yang lebih penting lagi, adalah mengingatkan ajaran tentang kemenangan terakhir (Sartono Kartodirjo: 174-175).

SEJARAH MUHAMMADIYAH
Peran KH. Ahmad Dahlan
1.1 Riwayat Hidupnya.

Ahmad Dahlan yang waktu mudanya bernama Muhammad Darwis, lahir pada tahun 1235 H (1868 M) di Kampung Kauman Yogyakarta. Ayahnya seorang alim bernama Kiai Haji Abubakar bin Kiai Haji Sulaiman, pejabat khatib di mesjid besar Kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri Haji Ibrahim bin Kiai Haji Hassan, pejabat penghulu Kesultanan. Melihat garis keturunan ini maka ia adalah anak orang yang berada dan berkedudukan baik dalam masyarakat.

Di antara saudara-saudaranya adalah:   Nyai Haji Saleh, Nyai Haji Muhammad Fakih (Ibu KH. Baidawi dan Nyai Haji Muhammad Nur   (Solichin Salam, K.H. Ahmad Dahlan:, 1962: 5-6). 


Silsilah

Solichin Salam melengkapi silsilah Ahmad Dahlan dengan mengutip dari buku Abdul Rahman, Ploso Kuning  sebagai berikut: 

Muhamnud Darwis (Ahmad Dahlan) bin Kiai Haji Abubakar bin Kiai Haji Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang Djurang Djuru Kapindo bin Demang Djurang Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Ainul Yakin bin Maulana Iskak bin Maulana Malik Ibrahim Waliyullah (Solichin Salam, 1062: 146).


Istri

KH.Ahmad Dahlan pernah menikah dengan:

  • Nyai Abdullah, janda dari Haji Abdullah. 
  • Nyai Rum (bibi Prof. Ahdul Kahar Muzakir) adiknya K. Munawir Krapyak (Yogya). 
  • Nyai Aisyah (adik Kanjeng penghulu) Cianjur, 
  • Nyai Solichah puteri Kanjeng Penghulu M. Syafii, adiknya Kiai Jasin Pakualaman Yogja. 
  • Dan terakhir kawin dengan ibu Walidah binti Kiai Penghulu Haji Fadhil (terkenal dengan Nyai Ahmad Dahlan) yang mendampinginya hingga ia meninggal (Solichin Salam, 1062 :7-8).

Keturunan

Dengan ibu Walidah ini Ahmad Dahlan memperoleh keturunan : 

a. Djohanah (istri pertama Haji Hilal, yang mempunyai anak Wahban Hilal), 

b. Haji Siradj Dahlan (Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, meninggal pada tahun 1948), 

c.  Siti Busro (Istri H. Isom Dja'far), 

d. Siti Aisyah (istri kedua Haji Hilal setelah Djohanah meninggal dunia, terkenal dengan Aisyah Hilal),
e. Zuharah (istri Haji Masykur Banjarmasin), 
d. dan Irfan Dahlan. 
    Irfan Dahlan ini kemudian bergabung dalam gerakan Ahmadiyah Kadian ( AK Pringgodigdo,  1977:. 95). 

KH. Ahmad Dahlan Meninggal

KH Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 23 Pebruari 1923 M (7 Rajab 1340 H) di Kauman Yogyakarta dalam usia 55 tahun.


1.2. Riwayat Pendidikan

Semasa kecilnya Ahmad Dahlan tidak pergi ke sekolah. Hal ini karena sikap orang- orang Islam pada waktu itu yang melarang anak-anaknya memasuki sekolah Gubernemen. Tetapi sebagai gantinya Ahmad Dahlan diasuh serta dididik mengaji oleh ayahnya sendiri. kemudian meneruskan pelajaran mengaji tafsir dan hadits serta bahasa Arab dan fikih kepada beberapa ulama lain di Yogyakarta dan sekitarnya. 

Dengan bantuam kakaknya (Nyai Haji Saleh), tahun 1890 ia pergi ke Mekah dan belajar selama satu tahun. Tahun 1903  mengunjungi lagi tanah suci selama dua tahun dan belajar pada Syekh Ahmad Chatib. Selama waktu tersebut ia menuntut ilmu agama Islam seperti tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, ilmu falak dan sebagainya. 


Tafsir Yang Digemari

Di antara ilmu-ilmu lersebut yang paling digemari dan menarik hatinya ialah Tafsir Al-Manar karangan Muhammad Abduh. Tafsir ini memberikan cahaya terang dalam hatinya serta membuka akalnya untuk berpikir jauh kedepan tentang keadaan Islam di Indonesia.



Guru KH. A. Dahlan

Di antara guru-guruya di Jawa ialah 

  • Kiai Haji Muhammad Nur (kakak iparnya),
  •  Kiai Haji Said, R. Ng. Sosrosugondo (ayah lr. Suratin), 
  • R. Wedana Dwidjosewajo.
  • Kiai Haji Dahlan Semarang, menantu Kiai Darat Semarang, dan kepada Syekh M. Djamjil Djambek (belajar Ilmu Falak).

Kepribadian

Keras kemauan, pribadinya mencerminkan sebagai seorang yang sungguh-sungguh dan tak mengenal lelah dalam merealisir cita-cita. Hal ini nampak seperti apa yang dikatakannya:

Saja mesti bekerdja keras, untuk meletakkan batu pertama daripada amal jang besar ini. Kalau sekiranja saja lambatkan atau saja hentikan lantaran sakitku ini maka tidak ada orang jang sanggup meletakkan dasar itu. Saja sudah merasa bahwa umur saja tidak akan lama lagi. Maka djika saja kerdjakan selekas mungkin, maka jang tinggal sedikit itu, mudahlah jang di belakang nanti untuk menyempurnakannja.

Keberaniannya dalam bertindak. 
  • Dikisahkan Djarnawi : Pernah suatu ketika ia mendapat ancaman berupa surat kaleng, yang isinya akan membunuhnya jika ia berkehendak memberikan ceramah agama di Banyuwangi. Ancaman terscbut ternyata diabaikannya. Dengan penjagaan yang ketat ia memberikan ceramah agama Islam dan masalah-masalah organsasi Muhammadiyah di Banyuwangi. 
  • Orang yang bersifat sabar, ikhlas dan gemar beramal. Sebagaimana dibuktikan waktu mendirikan Standard School (Sekolah Dasar) mengalami kekurangan biaya, ia mengikhlaskan barang-barang rumah tangganya untuk dijual guna meneruskan pembiayaan pembangunan gedung tersebut.
  • Sikapnya yang senang bergaul menjadikan ia memiliki banyak teman. Mulai dari orang biasa, para Kiai, priyayi, dan para bangsawan keraton, bahkan juga kepada pendeta-pendeta Kristen. 
Dialog Dengan Non Muslim

  • Yang terakhir ini terutama sekali dilakukannya adalah sebagai sarana guna mengadakan dialog tentang agama. Dengan pihak Katholik ia pernah mengadakan pertemuan dengan pastor Van Drees dan Van liest mengenai masalah-masalah ketuhanan di kampung Dagen; dengan pihak Protestan, ia sering mengadakan pertemuan dengan pendeta Domine Bekker di Jetis.
  • Peristiwa yang menarik ialah dengan kedatangannya seorang missi Kristen yang bernama Dr. Zmemmer dari Beirut. Keduanya kemudian sama-sama bertemu pada rapat umum di Ngampilan. Demikian pula dengan Dr. Laberton, seorang tokoh terkemuka Protestan yang lain.

Tujuan Dialog Dengan Non Muslim

  • Untuk bertukar pandangan tentang agama masing-masing, meskipun juga kadang-kadang berubah menjadi perdebatan yang seru. 
  • Hal demikian tidak bisa dihindari karena masalahnya menyangkut missi agama masing-masing. 
  • Inilah salah satu ciri dari tabligh KH Ahmad Dahlan.



1.4. Riwayat Perjuangan

  • Sebelum mendirikan Muhammadiyah, dan dengan dasar ilmu falak yang telah diperolehnya, mulailah ia berusaha membetulkan arah masjid, di mana umumnya masjid-masjid di Jawa sama menghadap lurus ke barat, termasuk masjid Agung Yogyakarta.  Untuk melaksanakan maksud tersebut Ahmad Dahlan terbentur pada tingkatan jabatan yang ada.
  • KH Ahmad Dahlan sering memberikan pengajian kepada kaum muslimat, meskipun menurut pendapat umum waktu itu, kaum wanita harus tetap dalam rumah, namum untuk mengaji, KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa mereka diperkenankan keluar dari rumahnya, 
  • Disamping sebagai khatib ia berdagang batik sebagaimana umumnya orang-orang Kauman pada waktu itu.
Pengalaman Organisasi :

  • Tahun 1910 KH Ahmad Dahlan memasuki Jam'iyat Al-Khair. Walaupun perkumpulan ini dipandang sebagai organisasi Ba Alwi yang kolot, Ahmad Dahlan memandangnya sebagai sarana yang penting untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan-perkembangan Islam di dunia.. Jam'iyat AI-Khair merupakan organisasi Islam yang pertama di Indonesia yang telah menjalin hubungan baik dengan negara-negara Islam di Timur Tengah
  • Setelah Sarekat Islam didirikan pada akhir tahun 1911 di Solo, ia juga memasuki organisasi ini. Pernah pula menjadi pengurus Komite Tentara Kanjeng Nabi Muhammad.
  • Pada tahun 1909 Ahmad Dahlan masuk perkumpulan Budi Utomo dengan maksud memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.

Lembaga Pendidikan
  • Mendirikan sekolah Muhammadiyah pada tahun 1911. Sekolah itu tidak diadakan di surau seperti biasanya madrasah pada waktu itu, tetapi bertempat di sebuah gedung dengan menggunakan meja dan papan tulis.
  • Sering mendatangi sekolah Kweek School (sekolah guru) di Jetis Yogyakarta dan MOSVIA (pamong praja) di Magelang untuk mengajar agama. Alasan bahwa Kweek School adalah sekolah yang mencetak calon-calon guru yang akan mendidik murid-muridnya, demikian pula MOSVIA, yang kelak akan menghasilkan tenaga-tenaga pamong yang akan mengatur masyarakat, karena itu kepada mereka harus diberikan pelajaran dan jiwa keagamaan sedalam-dalamnya.

Lembaga Sosial dan Dakwah
  • Terhadap kehidupan sosial ia mempelopori mendirikan rumah yatim, rumah sakit. cara penyaluran zakat, sedekah, kurban dan sebagainya. 
  • Terhadap agama Kristen selalu mengadakan dialok.
  • Mempergiat tabligh Islam dengan mendirikan dan mengatur organisasi secara modern.

2. Masa Pertumbuhan


2.1.1.  Fase Pemulaan (1908 -1913)

  • Masa dasar berdirinya Muhammadiyah bersamaan dengan mulai bangkitnya gerakan Nasional bangsa Indonesia yang menjelma dalam bentuk-bentuk keorganisasian yang nyata. Dalam masa ini usaha-usaha KH Ahmad Dahlan dipandang sebagai suatu hal yang penting dalam mempersiapkan berdirinya Muhammadiyah, demikian juga dalam masa-masa awal setelah organisasi ini berdiri.
  • Pada tahun 1910-an gerakan-gerakan nasional bangsa Indonesia menjelma dalam bentuk organisasi. Hal ini nampak tatkala didirikannya Budi Utomo pada tahun 1908 oleh Dr. Sutomo, dan Sarekat Dagang Islam pada tahun 1911 oleh Haji Samanhudi
  • Pada masa-masa awal sebelum dan setelah Muhammadiyah didirikan, Ahmad Dahlan lebih menekankan usahanya dengan menginsafkan beberapa orang keluarganya dan teman-teman sejawatnya di Yogyakarta, dengan menyalurkan cara-cara berpikir baru melalui pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah agama. 
  • Kegiatan serupa ia lakukan juga terhadap para anggota Budi Utomo dan Sarekat Islam sehingga ia diangkat sebagai penasehat tentang masalah-mualah keagamaan dalam kedua organisasi tersebut.

Muhammadiyah Berdiri

  • Hubungan yang baik dengan Budi Utomo, demikian pula Sarekat Islam dan respon dari murid-murid beserta teman-temannya, maka pada tanggal  8 Dzulhijjah 1330 H, bertepatan dengan  18 Nopember 1912 M  berdirilah Muhammadiyah. 
  • Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kiai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta. Kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.

Tokoh Pertama PP Muhammadiyah

1. Haji Ahmad Dahlann (Ketib Amin)

2. Abdullah Siradj (Penghulu)

3. Haji Ahmad (Ketib Cendana)

4. Haji Abdurrahman

5. R, Hadji Sarkawi
6. H. Muhammad (Kebayan)
7. R.H. Djaelani
8. Haji Anis
9. Haji Muhammad Pakih (Carik).

Pengajuan Legalitas

Setelah Muhammadiyah berdiri, KH Ahmad Dahlan mengajukan surat permintaan Recht Persoon (Badan Hukum) kepada Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta. Permintaan itu baru dikabulkan pada tanggal 22 Agustus 1914 dengan surat ketetapan Gouvernement Besluit No. 81 tertanggal 22 Agustus 1914. Izin tersebut hanya berlaku untuk daerah (kota) Yogyakarta, dan berlaku selama 29 tahun. (Kini sudah diakui secara nasional)


2.1.2. Fase Kaderisasi (1913-1917)

Jika diteliti, usaha Ahmad Dahlan untuk mempersiapkan kader sebenarnya sudah dilakukan sebelum ia mendirikan Muhammadiyah. 

Pada masa ini ia berusaha mencari dukungan guna merealisir cila-citanya untuk membentuk suatu organisasi. Karenanya usaha-usaha itu lebih bersifat companies (mencari teman). 

Tetapi pada saat setelah didirikannya Muhammadiyah, sifat itu ditekankan pada usaha untuk mencari bibit-bibit baru yang dapat mewarisi ide-idenya dan mengembangknn organisasi yang telah ia dirikan. Untuk mcncapai keinginan itu ia tempuh melalui pendidikan dan pengajian-pengajian.


Pengkaderan Melalui Pendidikan

  • Usaha-usaha pengkaderan juga dilakukan melalui lapangan pendidikan. 
  • Menjelang didirikannya Muhammadiyah, Ahmad Dahlan lebih dahulu mendirikan sekolah rakyat  yang murid-muridnya  terdiri dari laki-laki dan wanita. 
  • Setelah Mahammadiyah berdiri ia mendirikan juga Standard School  di Suronatan, dan pada saat itu mulai diadakan pemisahan, di mana murid laki-Laki ditempatkan di Standard School Suronatan, sedang sekolah rakyat Kauman dikhususkan unluk wanita,  sampai sekarang terkenal dengan Pawiyatan Wanita Muhammadiyah Kauman. 

Mendirikan Perkumpulan

  • Ketika Muhammadiyah belum diperkenankan membuka cabang dan ranting di luar kota dan daerah Yogyakarta sebagaimana  yang diperolehnya, Ahmad Dahlan menganjurkan untuk mendirikan perkumpulan dengan nama lain yang sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah.  
  • Di kota Yogyakarta diadakan jemaah-jemaah pengajian dan perkumpulan-perkumpulan yang menjalankan kepentingan-kepentingan Islam seperti: Ikhwanul Muslimin,  Cahaya Muda, Taqwimuddin. Hambudi Suci, Hayatul  Oulub, Priyo Utomo, Dewan Islam, Thaharatul  Qulub, Thaharatul Aba, Taawanu  Alal  Birri, Ta'rifu  Bima Kana, Wal Fajri, Wal  Asri, Jamiyatul Ummahat,  Syamsiyatul  Muslimat, Syarikatul Mubtadi  dan lain-lain. Di dacrah-daerah di luar Yogyakarta seperti: Nurul Islam (Pekalongan),  Al-Munir dan Siratul Mustaqim (Makasar), AI-Hidayah (Garut), Siddiq Amanah Tabligh Fathanah (Sala) (Departemen Penerangan: 56-57). 

3. Masa Perkembangan

  • Dalam masa perkembangan ini beberapa hal yang dapat dilihat adalah meluasnya pengaruh gerakan Muhammadiyah ke daerah-daerah lain di luar Yogyakarla, yang kemudian diikuti dengan berdirinya cabang dan ranting di daerah-daerah tersebut. Perkembangan ini diikuiti pula dengan munculnya bagian-bagian lain atau badan-badan otonom dalam gerakan Muhammadiyah.
  • Pada tahun 1917 daerah operasi Muhammadiyah mulai meluas di luar daerah Yogyakarta, dan beberapa daerah menghendaki agar didirikan cabang-cabang. 
  • Untuk memenuhi permintaan ini, maka Maksud dan Tujuan gerakan sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar yang  semula menetapkan daerah aktivitas organisasi hanya di Yogyakarta untuk pertama kali harus diubah.  
  • Untuk maksud ini Ahmad Dahlan mengajukan permohonan izin bagi cabang dan ranting di seluruh daerah Jawa,  yang dikabulkan dengan besluit Pemerintah Hindia Belanda No. 40 tanggal 16 Agustus 1920. 
  • Kemudian tangal 7 Mei 1921 menyusul permohonan izin untuk seluruh Indonesia, .dan dikabulkan dengan keluarnya Gouvcrnement  Besluit  No 38  tanggal 2 September 1921.
  • Deliar Noer menyebut bahwa  tahun 1920 adalah tahun perkembangan Muhammadiyah di luar Yogyakarta. 
  • Pada saat itu kebanyakan orang Indonesia merasakan faedahnya kesatuan melalui bentuk organisasi. Di beberapa daerah tidak bisa dilepaskan akan peranan para pedagang Minangkabau dalam memperkembangkan Muhammad iyah ini. 
  • Perkumpulan Nurut Islam di Pekalongan yang kemudian mcnjadi cabang adalah atas prakarsa para pedagang ini. 
  • Demikian juga Surabaya, yang  telah menjadi tempat  propaganda ide dari seorang  pedagang bernama Fakih Hasyim (Deliar Noer: 76).  
  • Berdirinya cabang Muhammadiyah di Surabaya tidak bisa dilepaskan dengan adanya usaha KH Mas Mansur dan kawan-kawannya. 
  • Semula KH Mas Mansur aktif di Nahdlatul  Wathan bersama ulama-u!ama Surabaya lainnya. Tetapi keadaan ini tidak bertahan lama. Hal ini sebagai akibat dari perselisihan di antara mereka (KH Mas Mansur dengan KH Wahab Hasbullah CS ) mengcnai masalah-masaLah khiLafiah, seperti tentang madzhab, mujtahid dan umumnya mengenai masalah-masalah Tauhid dan fikih. 
  • Untuk mempcrtahankan dan mengembangkam idenya, Mas Mansur kemudian mendirikan madrasah Hizbui Wathan (sampai sekarang masih ada dan berubah nama menjadi madrasah Mufidah). 
  • Di tempat lain seorang yang mempunyai garis pemikiran yang sama dengan Mas Mansur adalah Haji Ali. 
  • Pada tahun 1920 datang Fakih Hasyim. Mereka ini kemudian mendirikan perkumpulan Ikhyaus Sunnah (menghidup-hidupkan sunnah) yang disusul kemudian dengan didirikannya organisasi tabligh Ta'mirul  Ghafilin. 
  • Melalui perkumpulan ini KH. Ahmad Dahlan diundang untuk berceramah.  
  • Pada saat kedatangan KH Ahmad Dahlan yang kedua kalinya. diresmikanlah bcrdirinya cabang Muhammadiyah di Surabaya bertepatan dengan tanggal 1 Nopember 1921, dengan KH Mas Mansur sebagai ketua dan dibantu oleh Haji Ashari Rawi, Haji Ah Ismail dan Kiai Usman.
  • Pada tahun 1921 juga berdiri cabang-cabang Muhammadiyah di Srandakan, Wonogiri, Imogiri ketiganya di daerah Yogyakarta; Blora (Jawa Tengah) dan Kepanjen (Jawa Timur).  
  • Kemudian pada tahun 1922 berdiri juga cabang di Surakarta, Garut, Jakarta, Purwakerta, Pekalongan dan Pekajangan. 
  • Di Banyuwangi diperkirakan pada tahun itu juga, yaitu setelah KH Ahmad Dahlan memberikan ceramahnya dalam rapat umum yang diselenggarakan pada tanggal 7 Januari 1922, 
  • Pada tahun 1925 berdiri pula cabang Muhammadiyah di Kudus. 

Berdirinya Majelis Atau Ortom
     Sehubungan dengan semakin berkembangnya Muhammadiyah, maka dibentuklah  badan-badan berupa majlis atau organisasi otonom, al: 

  1. AISYIYAH
  2. NASYIATUL AISYIYAH
  3. HIZBUL WATHON
  4. PEMUDA MUHAMMADIYAH
  5. PKU
  6. MAJELIS DIKDASEMEN
  7. MAJLIS TARJIH
  8. Dalam perkembangannya terdapat Majelis Ekonomi, Tabligh, dll.

Aisyiyah

Semula merupakan kelompok  studi yang dipimpin sendiri olch KH Ahmad Dahlan, dengan anggota Badillah Zuber, Aisyah Hilal, Busro Isyom, Zahro Muchsin, Wadiah Nuh, Dalalah Hisjam, Siti Bariyah, dan Dawimah. Kelompok studi  tersebut kemudian disebut Sopo Trisno (siapa senang). Dalam perkembangan selanjutnya, Sopo Trisno berubah menjadi gerakan wanitn yang dinamakan Aisyiyah, berdiri pada tanggal 22 Aprl 1917. Nama ini atas anjuran KH. Muchtar, dan dalam pertemuan yang dihadiri oleh KH Ahmad Dahlan dan Ki Bagus Hadikusuma menunjuk Siti Barijah  (ketua), Siti Badilah (sekrctaris). Siti Aminah Harowi (bendahara) dan beberapa orang pembantu seperti Fathimah Washal, Siti Dalalah, Siti Wadi, Wadiah Nuh, Siti Dawimah dan Siti Busro.
Aisyiyah ini menekankan pada pentingnya kedudukan kaum wanita sebagai ibu rumah tangga, pendidik pertama kali di lingkungan keluarga. 


Nasyiatul Aisyiyah
Pada tahun berikutnya   Aisyiyah   memberikan   perhatian terhadap kalangan gadis remaja.  Atas usaha Siti Wasilah Hadjid, gadis-gadis remaja disalurkan lewat perkumpulan  Siswo Projo Wanito yang didirikan pada tahun 1919, yang pada tahun 1929 menjadi bagian khusus Aisyiyah dengan sebutan Nasyiatul  Aisyiyah (L. Stoddard, 1966: 313). 

Hizbul Wathan
Di bidang kepemudaan Ahmad Dahlan mendirikan Padvinder Muhammadiyah.  
Inisiatif ini timbul tatkala  KH. Ahmad Dahlan  bertabligh di Sala. Di saat itu dilihatnya barisan pemuda-pcmudi  yang sedang berlatih  kepanduan di alun-alun Mangkunegaran. Melihal manfaat gerakan semacam itu Ahmad Dahlan tidak ragu-ragu lagi untuk  menndirikan perkumpulan kepaduan.  
Tidak berapa lama berdirilah Padvinder  Muhammadiyah dcngan dipelopori anaknya  sendiri Siradj Dahlan (almarhum), Sarbini (almarhum), Sudirman (Panglima TNI, almarhum). 
Atas usul KH Hadjid, maka kepanduan tersebut diubah namanya menjadi Hisbul Wathan (penjaga tanah air).  
Di Hizbul Wathan juga dibcrikan pelajaran keagamaan dan masalah-masalah keorganisasian pada umumnya guna mempersiapkan  mereka untuk bergabung dengan organisasi bilamana dipcrlukan. Pada mulanya  Hizbui Wathan berada di bawah  pengawasan Majlis Pcndidikan dan Pcngajaran, tetapi setelah pertemuan pada tahun 1924, maka Hizbul Wathan menjadi bagian khusus dari Muhammadiyah yang menangani Pemuda dan kcpanduan, dcngan nama Majlis Hizbul Wathan. 

Pemuda Muhammadiyah
Dalam perkembangan selanjulnya, seperti diputuskan dalam kongres Muhammadiyah ke-21 tahun 1930 di Makassar, maka diputuskan berdirinya Muhammadiyah bagian pemuda yang dipandang lebih luas ruang geraknya, schingga dapat menampung keinginan dan hasral anak dan para pemuda. Dan Hizbul Wathan sendiri menjadi modal pertama yang merupakan inti dari gerakan Pemuda Muhammadiyah. 


PKO/PKU

  • Satu bagian penting yang merupakan departemen kesejahteraan sosial dari Muhammadiyah adalah Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).  
  • Sewaktu Ahmad Dahlan memberikan pengajian subuh, berulang kali diajarkan tafsir surat Al-Maaun. Maka haji Sujak menuntut akan sikap Kiai yang demikian. Dalam jawabannya Kiai menyuruh hendaknya surat tersebut diamalkan.  Sejak saat itu terjadi geger (ribut) soal Surat Almaon (surat Al-Maaun) yang kemudian mendorong berdirinya Majlis PKO dengan Haji Sujak scbagai tokohnya. 

PKU

  • Pada mulanya PKU merupakan organisasi independen yang didirikan pada  tahun I9I8 oleh beberapa tokoh Muhammadiyah untuk menolong korban bencana alam letusan gunung Kelud, kemudian   bertahan terus dengan kegiatan memberikan  pertolongan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu di Yogyakarta hingga menjadi Departemen Muhammadiyah pada tahun 1921.
  • Pada tahun 1922 PKU mendirikan rumah yatim untuk yang pertama kali,  kemudian diikuti oleh warga Muhammadiyah di Malang dan Sala. 
  • Di Surabaya baru tahun 1924 didirikan PKU dan beberapa bulan setelah itu, 14 Desember 1924, didirikan  Balai Kesehatan.
Majelis Pengajaran Muhammadiyah
  • Bagian lain yang menjadi perhatian khusus adalah masalah pendidikan dan pengajaran.  
  • Mengingat pentingnya peranan bidang ini. maka pada tanggal 14 Juli 1923 didirikan suatu badan bernama Majlis Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah  dengan M.Ng. Djojosugito sebagai ketuanya. 
Tugas Majelis Pengajaran
  1. Memberi bahan dan pertimbangan kepada pimpinan persyarikatan guna menentukan garis kebijaksanaan dan pelaksanaan dakwah Islam dalam bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.
  2. Memimpin   teknis  pengurusan   dan   penyelenggaraan   amal  usaha persyarikatan     dalam     bidang     pendidikan,     pengajaran dan  kebudayaan untuk dapat menjadi sarana dan alat  dakwah serta tempat  penyaluran amalan anggota dan umat Islam,
  3. Mengkoordinir usaha-usaha persyarikatan dalam bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.
  4. Membina kesadaran dan kemampuan anggota untuk dapat  diikutsertakan dalam  kegiatan persyarikatan  dalam bidang pendidikan. dan kebudayaan.
  5. Membina dan memimpin cara penyelenggaraan pendidikan di luar  sekolah dan rumah tangga
Majelis Tarjih
  • Majlis ini didirikan atas keputusan kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan pada tahun 1927. 
  • Majlis Tarjih dibcntuk atas ide KH. Mas Mansur sebagai konsul Muhammadiyah daerah Surabaya. 
  • Ide tersebut didasarkan karena adanya perasaan khawatir akan percekcokan dan perpecahan dalam Muhammadiyah tentang masalah-masalah agama, di samping juga khawatir akan timbulnya penyelewengan-penyelewengan di kalangan Muhammadiyah dari batas-batas hukum agama karena  terdorong untuk mengejar kebesaran lahiriyah dengan melupakan tujuan pokok. 
  • Fungsi Majlis ini adalah meneliti  hukum Islam untuk mendapatkan kemurniannya, memberikan bahan pertimbangan kepada pimpinan persyarikatan guna menentukan pelaksanaan ajaran dan hukum Islam kepada anggota.
Muhammadiyah sebagai Gerakan Sosial Keagamaan yang Bersifat Pembaharuan
Cita-cita pembaharuan sebagaimana yang dikehendaki K.H Ahmad Dahlan, merupakan ciri daripada gerakan Muhammadiyah. Sebagai gerakan reformis Muhammadiyah mendasarkan pada empat pokok dalam program garapannya yaitu: 

  1. Membersihkan Islam dari ajaran yang salah, 
  2. Pembaharuan pendidikan bagi kaum musliminh 
  3. Pembaharuan pemikiran tentang Islam menurut alam pikiran baru dan
  4. Membela Islam terhadap pengaruh  Barat dan ajaran Kristen  (Tatan M. Natsir, 1972: 16). 

Pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai upaya dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar, dilakukan melalui jalur cultural dan bukan structural, serta bercirikan agama dan social.


Penutup

  1. Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kultural keagamaan yang menjunjung tinggi paham multikul-tural, maka harus berani mengapresiasi budaya kelompok, etnis dan bangsa lain dengan persepsi yang lebih bersahabat (simpatik) dan empatik. 
  2. Menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakkan dak-wah yang bersifat multikultural  berarti memposisi-kannya sebagai gerakan sosial budaya yang terkait pada suatu kesatuan komunitas budaya global. 
  3. Menjadi orang Muhammadiyah yang multikultural, sejatinya kita sebagai warga Muhammadiyah telah berupaya mengurangi konflik antar budaya, antar etnis, antar kelompok yang menjadi intisari dari pendidikan kebangsaan. 
  4. Diperlukan adanya upaya untuk melakukan pemi-kiran kembali (rethinking) dan menata ulang (resha-ping)  gerakan pendidikan kebangsaan di era global ini dalam versi dakwah gerakan muhammadiyah multikultural yang lebih simpatik dan empati dalam jargon ke-bhinneka tunggal ika-an. 



Download Materi "Sejarah Muhammadiyah"


FIQO-2013

Komentar Anda

أحدث أقدم