PENCETUS KEBAIKAN ATAU KEBURUKAN?

Fastabiqul-khairat adalah kata yang sudah tak asing lagi di telinga kita.  Rupanya kata ini selalu menjadi motivasi dan inspirasi bagi para pencari ilmu untuk semakin menambah semangat mereka belajar, dan menjadi kata pembangkit gairah bagi yang  semangatnya mudah hilang.

Namun pernahkah kita merenungi, sudah seberapa banyak kebaikan yang kita lombakan untuk segera kita lakukan untuk orang lain? Apa mereka sudah merasakan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan? Jangan-jangan orientasi kebaikan kita ternyata ‘malah’  hanya untuk diri kita saja sehingga orang lain tidak pernah merasakannya? dan apakah memang kebaikan yang seperti itu yang banyak Allah harapkan pada kita sehingga bernilai ibadah yang besar dihadapanNya?

Saudaraku semua, satu yang harus kita yakini dan percayai bahwa kebaikan apapun pasti tidak akan pernah sia-sia dihadapan Allah (lihat Qs.Al-zalzalah). Sekecil apapun kebaikan itu, bahkan sekecil biji zarrah, akan Allah balas. Dalam Alqur’an dikatakan juga bahwa ia akan dilipat gandakan hingga sepuluh kali lipat.

Namun semuanya haruslah diiringi dengan ilmu agar Allah suka, Allah senang, dan Allah menjadi tersenyum melihat kebaikan yang kita lakukan karena cara kita yang benar dan manfaatnya besar.

Nah! di sini ada beberapa yang harus kita perhatikan agar kita benar melakukan kebaikan dan dengan mendapat pahala yang besar: 

  1. Dalam berbuat baik, kita harus  memiliki niat yang benar. Tentunya niatnya hanya satu: karena Allah agar keseluruhannya bernilai pahala. Sangatlah rugi, bila kita melakukan sesuatu tanpa niat yang benar. Misalnya memberi minum hanya ingin sekedar melepaskan dahaga orang lain atau memberi makan hanya sekedar kasihan kepada orang lain,  itu pun tidak menjadi pahala di sisi Allah. Pahala yang dihitung, kata Allah, hanya yang berbuat pure atas niat mencari ridho Allah bukan yang lain. (Lihat hadist Arba’in 1)
  2. Dalam berbuat kebaikan, hendaklah mengutamakan orang lain. Mengutamakan orang lain akan melatih kita menjadi pribadi yang selalu merasa peka terhadap kesulitan yang ada di sekitar kita. Jiwa kita akan peka. Mengutamakan orang lain juga akan senantiasa akan memberi kebahagiaan mereka yang menerimanya. Namun yang harus diingat, jangan sampai kita mendzalimi diri . Konsepnya, jika memang itu tidak memudhorotkan kita dan kita memiliki kesempatan membantu maka bantulah. Jangan ragu. Katakan kepada Allah, “Ya Allah, saya mau bantu orang lain nih, mudahin ya. Lahaula walaquwwata deh. Engkau yang tanggung jawab sama diri saya.”
  3. Jadilah orang yang gesit mencari ladang kebaikan. Setiap hari kita harus mencari target, siapa hari ini akan mendapat kebaikan-kebaikan Allah lewat pelantaraku ya?   Minimalnya kebaikan itu dengan tersenyum. Jadilah orang pertama yang memberi senyum kepada saudara kita agar mereka juga ikut tersenyum. Membuatnya bahagia. Itu akan membuat kita juga lebih bahagia. Kenapa? karena Allah langsung membalas di sana,Jangan ragu berbuat baik! engkau membahagiakan maka akan Aku bahagiakan.

Jangan ragu berbuat baik!
Nah, saudaraku, Banyak orang yang sedang menunggu kita di sana menunggu kebaikan-kebaikan yang akan kita berikan. So, jadilah kita ini sebagai tangan-tangan-Nya yang menjadi pelantara orang lain  mendapat kebaikan itu yang asal mulanya dari Allah. Ibaratnya kita adalah agen yang Allah utus untuk menebar karuniaNya.  Bayarannya? Jangan ditanya, insyaAllah tidak akan pernah Allah sia-siakan ketika di dunia pun ketika di akhirat.

Sumber

Komentar Anda

Previous Post Next Post